<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>
<rss version="2.0">
  <channel>
    <title>Suyanto Consulting -Artikel</title>
    <link>http://msuyanto.com/</link>
    <description>Artikel dan tulisan terbaru</description>
    <!-- optional tags -->
    <language>en-us</language>           <!-- valid langugae goes here -->
    <generator>Nucleus CMS v3.21</generator>
    <copyright>©</copyright>             <!-- Copyright notice -->
    <category>Weblog</category>
    <docs>http://backend.userland.com/rss</docs>
    <image>
      <url>http://msuyanto.com//nucleus/nucleus2.gif</url>
      <title>Suyanto Consulting -Artikel</title>
      <link>http://msuyanto.com/</link>
    </image>
    <item>
 <title><![CDATA[Belajar dari Penjual Koran (1)]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=287</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><br />
Sang penjual koran yang selalu rajin mengantarkan koran ke rumah saya. Lebih dari sepuluh tahun, saya setia menjadi pelanggannya. Kulitnya berwarna hitam kelam tersengat cahaya matahari setiap hari yang ditutupi dengan pakaian kebesaran jaket hitam lusuh dan topi untuk mengurangi sengatan matahari. Parfumnya tetesan keringat yang menempel pada wajahnya bagaikan orang yang baru saja menangis sejadi-jadinya. Tangan kanannya dihiasi oleh tanda dari Tuhan, yaitu tidak mempunyai jari. Wajahnya yang menjelang tua yang dihiasi beberapa helai uban, tetapi tetap memancarkan senyum yang bercahaya, bersemangat yang memperlihatkan dirinya seorang pekerja keras dan petarung yang pantang putus asa. Inilah pelajaran pertama yang kita peroleh dari seorang penjual koran. <br />
</div><div style="text-align: justify"><br />
Sebaliknya kita yang kulit kita seakan tak pernah bersentuhan dengan cahaya matahari, karena tertutup mobil yang mewah dan terlindung dari pakaian yang berharga mahal. Parfum dari Perancis yang mahal, dicuci bau harumnya masih kentara. Meskipun demikian kadangkala kita menebarkan senyum yang kecut dan merendahkan orang lain serta kadangkala menjadi seorang petarung yang mudah menyerah dan mudah putus asa dengan masalah yang sepele. Bekerja dengan penuh tekanan dan kurang bersyukur dari nikmat Tuhan yang sangat melimpah.<br />
Saya teringat sebuah kisah tentang dua orang yang tangannya dicium oleh Rasulullah Saw. Orang tersebut pasti orang yang luar biasa, karena hanya dua orang saja dari seluruh orang di Semenanjung Arabia. Orang pertama yang tangannya dicium oleh Rasulullah Sawadalah Fatimah yang merupakan putri Rasulullah Saw sendiri.<br />
Hal itu dilakukan karena Rasulullah Saw ingin menunjukkan bahwa wanita itu derajadnya tinggi dan sangat mulia, karena pada waktu itu wanita seakan-akan tidak berharga dan para bapak malu mempunyai anak wanita dan kadangkala anak tersebut dibunuhnya, sangat menyedihkan. Orang kedua adalah seorang berkulit hitam kelam dengan tangan yang melepuh. Rasulullah Saw bertanya, “Kenapa tanganmu melepuh seperti itu”. Jawab sahabat tersebut “Ya Rasulullah tanganku ini aku gunakan untuk membelah batu dengan kapakku agar aku bisa menghidupi keluargaku”. “Coba ulurkan tanganmu!” Rasulullah Saw memin-   ta mengulurkan tangannya dan kemudi-   an Rasulullah Saw menangkap tangan yang kotor dan melepuh tersebut dan menciumnya seakan beliau bersabda ini ada-  lah tangan yang dicintai Allah yang tidak lain adalah tangan dari seorang pekerja keras.  q - c<br />
*) M Suyanto, Ketua STMIK Amikom.<br />
</div>]]></description>
 <category>Metamorfosa</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=287</comments>
 <pubDate>Fri, 01 Aug 2008 16:15:00 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[Gaji Luar Biasa (2)]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=286</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><br />
Apa yang diajarkan Pak Anggoro kepada saya tentang gaji luar biasa, yaitu gaji yang kita berikan kepada karyawan dengan memberikan kesempatan melaksanakan idenya sepuluh tahun kemudian saya praktikkan. Ketika itu saya mengadakan seminar tentang ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pembicara baru memberitahu kesediaannya ketika waktu tinggal satu minggu. Seminar rencananya diadakan pada hari Sabtu. Waktu yang begitu pendek sangat sulit untuk memperoleh peserta seminar yang banyak. Dibutuhkan strategi khusus agar peserta seminar jumlahnya banyak. Setelah seluruh persiapan telah selesai, pada Rabu pagi pukul 10.00 wib, saya mengumpulkan staf saya untuk mendengarkan pendapatnya agar peserta seminar tersebut, banyak pesertanya. Saya telah menulis sepuluh strategi dalam satu lembar kertas untuk mendatangkan peserta. Tetapi strategi tersebut saya simpan di atas meja tanpa seorang stafpun yang tahu. Saya mencoba menahan diri untuk tidak mengeluarkan ide dan mencoba untuk menggali ide dari staf saya.<br />
</div><div style="text-align: justify"><br />
Setelah seluruh staf saya kumpul, kemudian saya meminta ide dari staf saya. “Kawan-kawan saya mohon ide dari Anda, bagaimana agar seminar kita Sabtu besok banyak pesertanya. Kita tinggal punya waktu 3 hari”. “Pak Yanto. Kita pasang iklan di koranî kata staf saya yang pertama. “Bagus “ puji saya, sambil mencoret salah satu strategi saya yang ada di lembar kertas. “Pasang iklan di radio” kata staf saya yang kedua.  “Bagus“ puji saya, sambil mencoret lagi salah satu strategi saya yang ada di lembar kertas. îKita kerjasama dengan asrama mahasiswaî kata staf saya yang ketiga. “Bagus” puji saya, sambil mencoret ketiga strategi saya yang ada di lembar kertas. “kerja sama dengan bimbingsan tes” kata staf saya yang keempat. Saya juga melakukan hal yang sama, menghargai ide mereka sambil mencoret ide saya yang sama dengan ide mereka. Hampir semua ide yang telah saya tulis sama dengan ide staf saya. Saya tidak mengatakan bahwa ide mereka sama dengan ide saya, tetapi saya mencoba menghargai ide mereka, saya seakan-akan tidak punya ide meskipun ide saya telah saya tulis dalam selembar kertas. Saya mengatakan kepada staf saya semua untuk menjalankan idenya masing-masing. Mereka menjalankan ide tersebut dengan cara luar biasa, karena sesungguhnya menjalankan ide mereka merupakan gaji yang luar biasa.<br />
Ketika hari seminar tiba, yaitu hari Sabtu, satu demi satu peserta seminar mendaftar dan memasuki ruang seminar. Setelah seminar dimulai, saya menuju tempat pendaftaran peserta seminar untuk mengetahui jumlah peserta seminar. Lembar demi lembar saya buka, saya terperangah. Saya melihat jumlah peserta  seminar akhirnya melampaui 1.000 peserta. “Luar biasa” kata saya dalam hati. Karyawan mempunyai ide dan melaksanakan ide mereka yang merupakan gaji yang luar biasa,  membuat sesuatu menjadi luar biasa pula. Selamat mencobanya. n-g<br />
M Suyanto, Ketua STIMIK  Amikom.<br />
</div>]]></description>
 <category>Leadership</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=286</comments>
 <pubDate>Tue, 29 Jul 2008 08:14:00 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[Gaji Luar Biasa (1)]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=285</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><br />
Pertanyaan seorang ibu ketika mengikuti seminar saya di Balai Kota “bagaimana saya dapat mempertahankan karyawan saya meskipun gajinya kecil?” Jawaban saya adalah tidaklah mudah untuk mempertahankan karyawan yang berkualitas. Meskipun demikian bukanlah tidak ada jalan untuk dapat mempertahankan karyawan tersebut. Saya memulai bisnis dari kecil, karena saya mulai bisnis tanpa menggunakan modal uang tunai, sehingga karyawan saya gaji dengan gaji yang kecil seperti yang dilakukan oleh ibu. Karena kemampuan bayar belum memungkinkan untuk membayar dengan gaji yang memadai. Sesungguhnya gaji bukanlah sebagai faktor untuk memotivasi, tetapi hanya sekadar menjaga motivasi. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan motivasi, sehingga dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik adalah bagaimana karyawan tersebut dapat berprestasi.<br />
</div><div style="text-align: justify"><br />
Jika dapat membuat karyawan kita berprestasi dengan memberikan kesempatan untuk menjalankan idenya. Apakah idenya itu berhasil atau tidak, tetapi kita telah memberikan kesempatan. Biasanya karyawan itu akan bekerja keras untuk membuktikan bahwa idenya tersebut merupakan ide yang cemerlang. Saya teringat ketika saya masih menjadi guru di salah satu SMA pinggiran kota yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang menggores dalam di hati saya dalam cara memimpin. Kepala sekolah tersebut bernama Bapak Drs Anggoro. Saya di SMA sebagai Guru Tetap Yayasan di gaji kecil, tetapi saya tetap bersemangat mengajar dan memberikan keahlian apa saja yang saya punya. Hal ini juga yang dilakukan oleh guru yang yang lain, bahkan ada juga Dgsen yang mau mengajar di sekolah tersebut. Gaji yang diberikan Pak Anggoro kepada guru-guru adalah memberikan kesempatan seluruh guru untuk melaksanakan idenya. Pada saat akan adanya penerimaan siswa baru, guru-guru dikumpulkan oleh kepala sekolah tersebut untuk membicarakan strategi agar SMA tersebut mendapat siswa yang banyak. Salah seorang yang beliau juga dosen di ISI bernama Pak Supriaswoto, mengatakan “Saya pak yang membuat sepanduknya. Saya cukup dibelikan bahannya,”. “Saya pak yang mengumumkan ke SMP tempat saya mengajar,” kata Pak Subarjo. “Saya yang membuat brosurnya pak,” kata saya. Semua guru yang kumpul di SMA itu mengeluarkan idenya masing-masing dan Pak Anggoro hanya menyerahkan kepada guru-guru tersebut untuk menjalankan idenya. Hasilnya luar biasa, siswa baru di SMA tersebut cukup mengagumkan. Saya telah belajar dari Pak Anggoro tentang gaji. Ternyata memberikan gaji tidak dengan uang tetapi dengan ide terbukti ampuh melebihi gaji yang berupa uang. Sayang, turun peraturan bahwa lulusan dari Sekolah Agama tidak boleh menjadi kepala sekolah, akhirnya Pak Anggoro harus rela melepaskan jabatan. Tidak begitu lama Pak Anggoro yang menjadi guru kehidupan saya dipanggil oleh sang pemiliknya. Tuhan memang mempunyai skenario terbaik. Saya merasa kehilangan karena baru belajar sedikit dari beliau. Semoga Pak Anggoro, damai di sisi-Nya. q - s *) M Suyanto, Ketua STMIK Amikom.<br />
</div>]]></description>
 <category>Leadership</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=285</comments>
 <pubDate>Fri, 25 Jul 2008 16:11:00 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[Belajar dari Strategi Penjahit (2)]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=275</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify">Sebulan kemudian jas tersebut telah siap untuk dipakai dan Pak Jon kembali ke rumah Pak Jeremy untuk menyerahkan jas tersebut. “Berapa Pak Jon harganya?” tanya Pak Jeremy. “Rp. 1,5 juta saja Pak, tetapi bayarnya besok saja kalau saya sudah butuh Pak” kata Pak Jon. Inilah pelajaran kedua yang kita peroleh dari seorang penjahit yang hanya lulusan SD. Di balik itu sebenarnya ada strategi yang ampuh yang diterapkan Pak Jon. Ia tahu benar bahwa Pak Jeremy adalah salah seorang selebritis. Ia sengaja tidak mau dibayar lebih dahulu, karena ia ingin menggunakan nama Pak Jeremy untuk memasarkan jasanya. Ia ke mana-mana menawarkan Jas dengan menyatakan bahwa ia telah membuatkan Jas untuk Pak Jeremy Thomas yang bintang sinetron itu. Ia menggunakan Jeremy sebagai ikon produknya. Selebriti dapat mempengaruhi sikap dan perilaku pelanggan terhadap produk yang didukungnya. Persepsi dan sikap pelanggan terhadap kualitas produk meningkat dengan adanya selebriti yang mendukung. Lebih jauh, harga produk juga akan meningkat dengan adanya selebriti tersebut. Selebriti itu dapat menjadi pendukung produk, biasanya selebriti tersebut mempunyai hubungan yang mempunyai makna atau cocok dengan produk dan pelanggan.</div><div style="text-align: justify">Pertimbangan utama selebriti sebagai pendukung antara lain karena kredibilitasnya, kecocokan dengan pelanggan, kecocokan dengan merek dan pertimbangan lainnya. Kredibilitas selebriti itu menyangkut kepercayaan dan keahliannya secara bersama-sama yang dilihat oleh pelanggan. Orang yang dapat dipercaya dan dianggap memiliki wawasan tertentu, misalnya tentang kehandalan merek akan menjadi orang yang paling mampu meyakinkan orang untuk mengambil tindakan. Jeremy merupakan selebriti yang telah dipercaya masyarakat sebagai aktor sinetron yang berhasil yang cocok sekali untuk produk jas. Pak Jon juga menganggap Jeremy, nilai dan perilakunya sesuai dengan kesan dari jas yang dibuatnya. Di samping itu Jeremy Thomas juga mempunyai daya tarik fisik termasuk yang tampan, ramah, menyenangkan sehingga menarik pelanggannya Pak Jon. Pertimbangan lainnya, Pak Jon tidak membayar Jeremy, tetapi hanya memberikan penangguhan pembayaran. Strategi yang diterapkan Pak Jon tersebut ternyata sangat manjur. Beberapa orang yang ingin dianggap penting dan ingin menjadi selebriti berbondong-bondong menjahitkan jas pada Pak Jon. Pak Jon memberikan harga Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Harga yang jauh lebih mahal daripada harga yang diberikan kepada Pak Jeremy Thomas untuk yang pertama kali. Meskipun demikian tidak ada pelanggan merasa harga jas yang hanya dibuat oleh Pak Jon, karena ia menggunakan selebriti sebagai pendukung produknya. Dis amping itu pemasaran dari mulut-kemulut dari orang yang dibuatkan jas oleh Pak Jon menambah pemesanan. Pada saat Pak Jeremy berseminar dengan saya, yang pesan jas kepada Pak Jon sudah lebih dari 20 orang. Memanglah kadangkala kita harus belajar dari orang kecil, seperti halnya Pak Jon yang hanya lulusan SD. q - c *) M Suyanto, Ketua STMIK Amikom.<br />
</div>]]></description>
 <category>Kewirausahaan</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=275</comments>
 <pubDate>Fri, 25 Jul 2008 15:24:53 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[DALAM INAICTA DAN TESCA 2008; STMIK Amikom Lolos Seleksi]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=282</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><br />
YOGYA (KR) - STMIK Amikom Yogya lolos seleksi tahap pertama, sebagai calon nominator kontes bergengsi Indonesia ICT Awards/INAICTA 2008 dan Telkom Smart Campus Awards/Tesca. Sehubungan dengan itu, tim juri Tesca akan melakukan kunjungan ke kampus STMIK Amikom, pada 24 Juli 2008 mendatang. “Untuk Yogya, selain STMIK Amikom, yang masuk calon nominator adalah UGM,” kata <b>Dr M Suyanto</b>, Ketua STMIK Amikom, kepada KR, Sabtu (19/7). Nominator Tesca 2008 lainnya adalah Politeknik Batam, IPB, Institut Teknologi Telkom, Universitas Pendidikan Indonesia, Unikom Bandung, Bina Nusantara, dan beberapa perguruan tinggi lainnya. Beragam produk Information and Communication Technology/ICT terbaik akan ditampilkan dalam event INAICTA 2008, di Jakarta Convention Center pada 7-8 Agustus 2008 mendatang.<br />
</div><div style="text-align: justify"><br />
Suyanto menambahkan, untuk INAICTA, beberapa karya dari STMIK Amikom yang masuk nominasi adalah topik ‘Sistem Informasi Perencanaan’ untuk kategori E-Government. Kemudian karya Mobile Intelligent Marketing untuk kategori E-Business, serta karya animasi ‘Petualangan Abdan: Belajar di Sekolah’, animasi Ohayo Shelly dan ‘Lembah Halilintar’ untuk kategori E-Entertainment. Sedangkan karya Aircraft Tracking Tools masuk nominasi untuk kategori Tools and Infrastructure. Selanjutnya untuk kategori Research and Development, karya STMIK Amikom yang masuk calon nominator adalah karya 3D Aircraft Visualization dan Image Classification. Banyaknya karya STMIK Amikom yang lolos seleksi tersebut dinilai membanggakan. “Hal ini sejalan dengan komitmen kami mengembangkan kreativitas dan inovasi baik mahasiswa, dosen maupun karyawan,” tambah Suyanto. (Rsv)-k<br />
</div>]]></description>
 <category>Berita</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=282</comments>
 <pubDate>Mon, 21 Jul 2008 08:39:00 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[Kepemimpinan Gaya Surga]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=284</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><br />
Menurut Peter F Drucker, kepemimpinan tak terlepas dari kaitan budaya (kultur) yang disandang oleh masyarakat yang dilayaninya. Kultur itu bahkan tampil sebagai bagian terpadu dalam keseluruhan kepemimpinan itu, menjadi semacam bingkai yang lazim disebut gaya (style), hingga terdapat terminologi kepemimpinan Gaya Jepang atau kepemimpinan Gaya Cina atau kepemimpinan Gaya Barat dan seterusnya.<br />
Kepemimpinan bertugas mengemban misi bagi lembaga yang dilayaninya, beroperasi berlandaskan budaya dan kepemimpinan bertugas mengembangkan tiap kegiatan kerja manjadi produktif dan membuat agar tiap kerja berprestasi, melakukannya berlandaskan napas, semangat dan jiwa budaya. Dalam mengelola dampak sosial dan tanggung jawab sosial, eksistensi dan kegiatan lembaga yang dilayaninya, pemimpin melakukannya dalam penghayatan terhadap budaya.<br />
</div><div style="text-align: justify"><br />
Di Asia Timur dan Tenggara barangkali kita dapat tanpa ragu-ragu bicara tentang  budaya Jepang, budaya Korea, budaya Cina dan budaya Indonesia di samping budaya-budaya yang lain yang lebih lokal dan regional sifatnya. Tentang budaya Indonesia, yang menurut Ki Hadjar Dewantara adalah puncak dari semua kebudayaan daerah, yang kemudian saling berinteraksi dan beradaptasi berangsur larut menjadi satu kepribadian. Gaya kepemimpinan yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara, ‘Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani’, yaitu di depan harus menjadi teladan, di tengah harus mendukung dan di belakang harus mengikuti, merupakan salah satu gaya kepemimpinan dengan landasan budaya Indonesia.<br />
 Kita juga mengenal gaya kepemimpinan Hasta Brata, yaitu kepemimpinan memiliki sifat matahari, bulan, bintang, angin, api, awan, samudra dan bumi.  Pemimpin yang memiliki sifat matahari, harus mampu memberikan semangat yang membara dan kekuatan spirit kepada anak buahnya.<br />
 Pemimpin dengan sifat bulan, harus menarik, memberikan keindahan suasana kerja, dan pergaulan, serta membuat terang saat muncul kegelapan.<br />
Pemimpin yang memiliki sifat bintang, harus dapat memberikan arah yang benar bagi perjalanan suatu organisasi atau lembaga. Pemimpin juga harus mempunyai sifat angin. Dia harus mampu  berkomunikasi dengan baik, mampu memotivasi dan dapat mengisi kekurangan anak buahnya dengan ungkapan kata menyejukkan, bukan sekadar mencela. Pemimpin dengan sifat api, dapat bersikap tegas, tanpa pandang bulu menindak yang bersalah tanpa ragu-ragu. Sifat awan memiliki kewibawaan kuat, dihormati sekaligus dicintai rakyat. Pemimpin juga harus memiliki sifat samudera dan bumi. Yakni pemimpin harus mampu menampung segala permasalahan, tetap sabar dan tenang dalam memberikan solusi. Dia juga harus teguh dan kuat pendirian tetapi siap pula mendengar masukan dari mana pun untuk dijadikan bahan pertimbangan.<br />
 Sejarah membuktikan bahwa hantaman badai waktu dan zaman, tidak mampu mengubah sendi-sendi dasar budaya. Yaitu kepercayaan pada Dzat Yang Maha Tinggi, Sang Maha Pencipta serta kebersamaan dalam konteks  kegotongroyongan. Maka secara sosiologis, pola dasar budaya kepemimpinan Indonesia adalah kepemimpinan paguyuban.<br />
Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah menciptakan anak Adam dengan delapan sifat. Empat sifat untuk ahli Surga, yaitu wajah yang manis, lisan yang fasih, hati yang suci dan tangan yang memberi bantuan, dan empat sifat untuk ahli neraka, adalah mereka yang berwajah muram, ucapan yang keji, hati yang keras, tangan yang tidak mau membantuî. Pemimpin berlandaskan akhlak dengan wajah yang manis, lisan yang fasih, hati yang suci dan tangan yang memberi bantuan merupakan Kepemimpinan  Gaya Surga. q - m<br />
*) M Suyanto, Ketua STMIK Amikom.<br />
</div>]]></description>
 <category>Leadership</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=284</comments>
 <pubDate>Sat, 19 Jul 2008 16:09:00 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[KUNJUNGAN KE NANYANG TECHNOLOGY UNIVERSITY ; Kalau Cocok, Tak Masalah Adopsi Kurikulum]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=281</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><br />
PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi informasi (TI) menuntut perguruan tinggi berbasis teknologi untuk selalu siap melakukan perubahan untuk mengembangkan diri. Khususnya dalam penyusunan kurikulum, tak bisa kaku, namun harus dinamis, mengikuti trend dan perkembangan tuntutan pasar global, khususnya industri dunia kerja. “Kalau perlu mengadopsi kurikulum dari luar negeri, yang sekiranya pas dan cocok. Sehingga, lulusannya nanti bisa bekerja tak hanya di dalam negeri namun juga diakui keahliannya di luar negeri,” kata <b>Dr M Suyanto,</b> Ketua STMIK Amikom, Yogya, kepada KR, saat mengunjungi Nanyang Technology University/NTU, Singapura, belum lama ini.<br />
Di sela-sela menghadiri undangan mengikuti event pameran produk teknologi informasi di Singapura, M Suyanto menyempatkan diri untuk mengunjungi kampus NTU, dan mempelajari kurikulum yang dikembangkan NTU yang dikenal sebagai universitas riset dengan penguatan pada bidang sains dan teknologi tersebut.<br />
</div><div style="text-align: justify"><br />
NTU yang mengembangkan 12 sekolah yang dikelola di bawah 4 lembaga dan 2 unit otonom tersebut, saat ini melaju menjadi pendidikan berkualitas global yang telah meluluskan lebih dari 8.600 orang dan kini memiliki 19.100 mahasiswa.<br />
Suyanto mengamati, ada cukup banyak kurikulum yang bisa diadopsi untuk Indonesia pada umumnya, dan untuk STMIK Amikom pada khususnya. Disebutkan misalnya, program Master of Science untuk bidang Digital Media Technology, yang mengedepankan konsep pendidikan untuk mengembangkan, mendesain dan menerapkan proyek di bidang digital media.<br />
Unggulan dari program ini, adalah perpaduan teori dan proses pembelajaran berbasis aktivitas memungkinkan lulusannya benar-benar mampu mengembangkan kompetensi dan keterampilannya. “Mungkin program inilah yang antara lain akan kami adopsi untuk mengembangkan program Magister di STMIK Amikom,” kata Suyanto.<br />
Baginya, mengadopsi kurikulum dari perguruan tinggi luar negeri sebenarnya tak masalah, sejauh memang bisa dipadukan dengan kebutuhan dalam negeri.                   (Rsv)-g<br />
</div>]]></description>
 <category>Berita</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=281</comments>
 <pubDate>Wed, 16 Jul 2008 08:06:00 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[Mengubah Kerugian (1)]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=283</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><br />
Ketika saya menyampaikan seminar di Balaikota yang diadakan oleh SKM Minggu Pagi, ada salah seorang yang bertanya. “Pak Yanto. Saya berbisnis dalam bidang pakaian. Saya hanyalah pengusaha kecil, yang hanya mampu menggaji karyawan dengan gaji kecil. Saya berusaha mendidik karyawan saya dengan baik. Setelah mereka trampil, akhirnya keluar. Bahkan dia mendirikan perusahaan seperti perusahaan saya, sehingga ia menjadi pesaing baru kami. Saya sangat kecewa kepada karyawan tersebut. Kok tidak ada balas budi kepada saya. Bahkan memusuhi dan menyakitkan hati saya. Bagaimana Pak Yanto saya menyikapi hal ini dan bagaimana saya dapat mempertahankan karyawan saya meskipun gajinya kecil?” Pertanyaan seorang ibu tersebut sederhana, tetapi jawabannya tidaklah mudah, rumit, kompleks dan barangkali tidak memuaskan. Saya mencoba menjawab dengan memahami apa yang dikatakan, dimaksudkan dan dirasakan seorang ibu tersebut.<br />
</div><div style="text-align: justify"><br />
Jawaban saya yang pertama “Seandainya saya menjadi Ibu yang telah mendidik karyawan dengan baik. Setelah mereka trampil, akhirnya keluar. Bahkan dia mendirikan perusahaan seperti perusahaan Ibu, sehingga ia menjadi pesaing baru Ibu. Tidak ada balas budi kepada Ibu, bahkan memusuhi dan menyakitkan hati Ibu. Sayapun seperti Ibu, juga sangat kecewa kepada karyawan tersebut. Tetapi Bu, kita mencoba untuk memandang dengan cara yang lain. Memandang dengan sikap mental positif. Kita mengatakan dalam hati kita, bahwa Saya telah mendidiknya dengan baik. Sekarang ia telah menjadi pengusaha baru. Semoga ini merupakan amalanku kepada Allah yang tidak pernah putus. Amalan ketika anak Adam meninggal dunia, telah putus semuanya kecuali tiga hal. Anak yang saleh, amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Semoga yang saya lakukan terhadap karyawan saya tersebut termasuk amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat yang mendapatkan balasan dari Allah di akhirat kelak. Sekarang saya bangga dengan dia karena dia merupakan salah satu sarana saya untuk surga dari Allah. Sekarang dia akan saya jadikan anak saya lagi seperti dahulu. Bukan lagi permusuhan, tetapi hubungan kekeluargaan dan kerja sama, yang saling memajukan kedua perusahaan”. Kebanyakan dari kita, ketika disakiti dari rekan bisnis, mantan karyawan, maka yang kita lakukan adalah memusuhi, bahkan seakan-akan pertarungan yang tidak pernah habis dan sangat melelahkan. Yang ada hanya sakit hati, dendam dan iri hati. Ibarat Gladiator maka kita bertempur habis-habisan sampai titik darah penghabisan. Sebagian yang kalah mati, tetapi yang menangpun pingsan. Semuanya rugi, tidak ada satupun yang beruntung. Tetapi jika kita menyikapi dengan cara yang berbeda dengan mengambil sisi positif, maka kita akan memancarkan energi positif di sekitar kita, yang menjadikan lingkungan menjadi indah, akhirnya dapat mengubah kerugian tersebut menjadi keuntungan. q - k *) M Suyanto, Ketua STMIK Amikom.<br />
<br />
</div>]]></description>
 <category>Kewirausahaan</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=283</comments>
 <pubDate>Mon, 14 Jul 2008 16:06:00 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[STMIK AMIKOM SEGERA BUKA S-2; Konsentrasi ‘Teknologi Media Digital’]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=279</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><br />
YOGYA (KR) - STMIK Amikom, Yogya, segera membuka program S-2. Proses pengajuan sudah dilakukan dan diharapkan dalam waktu dekat sudah turun izinnya, sehingga tahun akademik 2008-2009 ini sudah dapat menerima mahasiswa baru jenjang program Master of Science.<br />
Ketua STMIK Amikom, Dr M Suyanto menjelaskan kepada KR, di kampus, Jl Lingkar Utara, Yogya, program S-2 ini sudah lama digagas dan banyak pihak mengharapkan agar STMIK Amikom yang dinilai unggul dalam pendidikan tinggi teknologi informasi, untuk membukanya.<br />
Program S-2 nanti, menurut Suyanto, akan dikedepankan konsentrasi pada bidang yang sangat prospektif dan mampu mengisi peluang dunia kerja. “Kami merencanakan konsentrasi pada Digital Media Technology, karena bidang ini sangat aplikatif dan sejalan dengan kebutuhan pasar sekarang,” katanya.<br />
Untuk keperluan, belum lama ini, Ketua STMIK Amikom, M Suyanto melakukan studi banding ke Nanyang Technology University/NTU, di Singapura. Perguruan tinggi ini dinilai unggul dalam bidang teknologi informasi, dan sudah banyak dikenal di berbagai negara.<br />
Dari sekian banyak sekolah di bidang teknik, maka bidang studi di NTU yang paling cocok dengan bidang studi yang ada di Amikom adalah School of Computer Engineering dengan konsentrasi Master of Science Digital Media Technology.<br />
Selama ini, STMIK Amikom sudah banyak dijadikan tempat studi banding dan pelatihan di bidang komputer, teknologi informasi dari berbagai institusi, maupun sekolah-sekolah menengah dari berbagai kota. Salah satu karya fenomenal dari STMIK Amikom adalah film kartun.<br />
</div>]]></description>
 <category>Berita</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=279</comments>
 <pubDate>Thu, 03 Jul 2008 08:03:00 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[Santai di Singapura, Pakai MRT Saja]]></title>
 <link>http://msuyanto.com/index.php?itemid=278</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><br />
WAKTU santai ketika berada di luar negeri, banyak dimanfaatkan wisatawan atau pelaku bisnis untuk jalan-jalan. Entah itu ke objek wisata, maupun ke pusat perbelanjaan dan kafe. Masalahnya, ketika tujuan tempat bersantai tadi lokasinya berjauhan, dan kondisi sedang sendirian, bisa membosankan dan membuat semangat turun.<br />
Namun bila kita berada di Singapura, sendirian pun tak masalah. Mau kemana saja, tak perlu bingung atau bosan. Karena, aksesibilitas di negeri bersimbol Merlion ini bagus. Moda yang paling afordable, nyaman dan mudah didapatkan adalah Mass Rapid Transit/MRT baik jarak dekat, menengah sampai jauh, termasuk ke bandara.<br />
Lokasi MRT station tersebar di segala penjuru Singapura. Sehingga, hampir semua tempat umum bisa dijangkau dengan MRT. Dengan harga tiket murah, mulai dari 2,2 dolar Singapura, sesuai tujuan. Kita merasakan perjalanan nyaman, dengan keramahan warga yang membuat kita betah berlama-lama di dalam MRT.<br />
Petunjuk pemakaian MRT jelas, dibuat dengan peta yang mudah dipahami. Tak heran ketika <b>Ketua STMIK Amikom</b>, yang keliling naik MRT ke beberapa tujuan sasarannya, merasa ketagihan. ”Kalau pakai MRT sangat mudah dan nyaman, bisa dimengerti kalau orang Singapura banyak memanfaatkan moda ini dan tak menggunakan mobil pribadinya,” katanya.<br />
Banyaknya pengguna MRT bisa dilihat setiap hari mulai pagi hingga menjelang tengah malam. Hampir di semua MRT station, penuh dengan penumpang, yang bisa sampai 3 lantai itu. Terlebih pada stasiun tertentu, seperti Orchard, China Town, Citi Hall, luapan penumpang terjadi sepanjang waktu. Tiket yang tak dipakai lagi, kalau tak ingin dijadikan souvenir, bisa ditukar kembali melalui mesin tiket dan akan didapat pengembalian 1 dolar Singapura.                   (Ronny SV)-c<br />
</div>]]></description>
 <category>Berita</category>
<comments>http://msuyanto.com/index.php?itemid=278</comments>
 <pubDate>Thu, 26 Jun 2008 08:35:00 +0000</pubDate>
</item>
  </channel>
</rss>